Alasan Tuhan Ingin Agar UmatNya Terus Bergantung Pada-Nya & Bukan Pada Kekuatan Manusiawi Sendiri

StevenAgustinus.com – Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Tuhan menghendaki untuk kita terus hidup dalam ketergantungan penuh kepadaNya dan tidak pernah mengandalkan kekuatan manusiawi kita (Yer 17:5-6, Ul 8:11-20, Ams 3:5-6).

Melekat pada Tuhan adalah suatu kondisi rohani yang harus terus diusahakan atau dibangun dalam kehidupan kita sebagai orang percaya sehingga kehidupan sehari-hari kita selalu dibuat berbeda oleh Tuhan, karena ada manifestasi realita kedaulatan dan kesetiaan Tuhan yang secara nyata terus menyertai kehidupan kita.

Dan inilah alasan mengapa Tuhan ingin agar umatNya terus hidup bergantung padaNya dan bukan pada kekuatan manusiawi kita sendiri :

1. Sadarilah bahwa di dalam apapun yang akan kita lakukan, Ia adalah sumber dari setiap unsur yang kita butuhkan untuk membuatnya berhasil

follow instagram : @stevenagustinus

Sadarilah bahwa hanya di dalam Dia Sang sumber anugerahlah kita bisa menikmati keberhasilan dari apapun yang kita lakukan. Misalnya, jika kita ingin melakukan suatu pekerjaan tertentu, entah itu berkaitan dalam pekerjaan sekuler ataupun pelayanan. Maka segala unsur yang kita butuhkan untuk membuat pekerjaan tersebut berhasil ada di dalam Tuhan seperti resources keuangan, koneksi dengan orang-orang tertentu, hikmat, pemikiran dan strategi ataupun man power yang kita butuhkan untuk mengerjakan pekerjaan itu hingga berhasil. Pendek kata, apapun unsur yang kita butuhkan, sesungguhnya semua ada di dalam Dia..!

Dengan kita mengakui bahwa tanpa restu dan keterlibatanNya, maka kita tidak akan pernah berhasil secara sempurna untuk merealisasikan pekerjaan tersebut. Dengan kita berniat menyelaraskan setiap keputusan dan rencana yang akan kita lakukan sesuai dengan arahan dari Roh Kudus seraya terus memperkatakan dan mendeklarasikan firman yang Tuhan telah beri mengenai apa yang akan kita kerjakan, maka secara langsung ataupun tidak, sesungguhnya kita sedang belajar untuk hidup dalam ketergantungan terhadap Tuhan sendiri. Kita memutuskan mengikuti rancangan kekal yang Ia miliki, menyelaraskan rencana kita dengan rencanaNya dan meminta Dia untuk menuntun setiap langkah dan keputusan yang kita buat sehingga apapun yang akan kita lakukan menjadi manifestasi dari rencana kekalNya di bumi ini.

Memang banyak orang fasik yang berhasil dan mendapatkan apa yang mereka kejar, namun sayangnya tidak ada Tuhan di dalamnya. Ada banyak kerusakan, kekosongan bahkan kehancuran yang orang fasik alami dalam kehidupan mereka. Karena mereka membangun segala sesuatunya tidak berlandaskan Tuhan dan firmanNya.

Lukas 6:46-49  

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? 
Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–, 
ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. 
Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” 

2. Biasanya seseorang akan cenderung bertindak mengandalkan kekuatannya sendiri saat persekutuan pribadinya dengan Tuhan mulai terganggu (Kej 3:7)

follow instagram : @stevenagustinus

‘Mengandalkan kekuatan sendiri’ adalah sebuah respon alamiah yang akan di lakukan oleh setiap manusia kalamana ia mendapati ‘campur tangan Tuhan’ tidak lagi termanifestasi atas hidupnya atau apa yang sedang ia lakukan. Demi untuk memastikan keberlangsungan hidup atau apa yang ia kerjakan, seseorang akan mulai menggantikan setiap unsur yang seharusnya di terima dari realita campur tangan Tuhan dengan berbagai hal lain yang dia pikir akan dapat menggantikan unsur keberadaan Tuhan tersebut.

Misal, di saat seorang hamba Tuhan mulai ‘gagal’ menarik turun realita hadirat Tuhan dalam pelayanannya, maka ia akan berusaha untuk ‘menggantikan’ unsur hadirat Tuhan tersebut dengan suatu keprofesionalan atau kemeriahan lain yang di rasa tetap akan dapat ‘memukau’ jemaat, orang banyak.

Matius 22:37 kasihilah  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Padahal hukum terutama yang Tuhan beri adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, itu menandakan bahwa hal ini bukan saja menjadi kerinduan Tuhan untuk memiliki hubungan yang dekat dengan umatNya, namun sudah seharusnya menjadi keharusan mutlak untuk kita mengasihi Tuhan kita karena Dialah Bapa yang memberikan nafas kehidupan ini kepada kita.

Untuk itu, bagi orang yang melakukan segala sesuatu dengan mengandalkan diri sendiri, sesungguhnya persekutuan pribadinya dengan Bapa di sorga sedang alami gangguan atau tidak sehat. Sehingga ia akan memprioritaskan hal-hal eksternal lebih penting dibanding hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan dan pertumbuhan kerohaniannya. Jika sikap ini terus dipertahankan, hanya tinggal menunggu waktu saja kehancuran hidup sudah menanti di depannya. Karena tanpa disadari ia lebih memilih distraksi (gangguan) yang Iblis buat dalam hidupnya hanya dengan satu tujuan agar manusia itu bisa menjauh dari Tuhan.

3. Kehidupan yang mengandalkan kekuatan manusiawi hanya akan dapat memberikan suatu solusi yang bersifat sementara tetapi justru akan memunculkan suatu masalah baru yang lebih kompleks (Kej 3:7, 21; 4:8-12)

follow instagram : @stevenagustinus

Penyelesaian masalah dengan mengandalkan cara manusia seringkali hanya bersifat sementara, bahkan setelahnya justru akan kembali memunculkan satu masalah baru yang jauh lebih kompleks dari permasalahan awal.

Saat Kain berusaha untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi – rasa tertolak yang menggerogoti dan menyiksa batinnya. Dengan cara membunuh Habel, munculah permasalahan baru yang lebih kompleks yaitu Tuhan menuntut Kain atas pembunuhan yang ia lakukan.

Belajar dari kasus hidup Kain, kita belajar bahwa apapun yang kita alami dalam hidup ini, dibutuhkan keterbukaan dan kerendahan hati untuk membuka diri kita di hadapan Tuhan dan meminta Dia menilai, mengevaluasi, mengoreksi dan meluruskan kembali hidup kita hingga memperkenan hatiNya. Hidup dalam ketergantungan terhadap Tuhan merupakan suatu jenis kehidupan sehari-hari yang kita dedikasikan untuk terus memperkenan hatiNya.

4. Pemimpin atau orang berkharisma yang mengandalkan kekuatan sendiri akan memunculkan kelompok orang yang hidupnya menyimpang dari rencana Tuhan

follow instagram : @stevenagustinus

Pemimpin atau orang berkharisma yang mengandalkan kekuatan sendiri akan memunculkan kelompok orang yang hidupnya menyimpang dari rencana Tuhan bahkan cenderung menjadi orang-orang yang secara langsung ataupun tidak, justru di pakai Iblis untuk merusakkan agenda dan rencana Tuhan (Kej 4:17-24).

Tindakan Kain membunuh Habel karena panas hati yang mengganggu, menggerogoti batinnya telah termultiplikasi dalam hidup Lamekh; ia membunuh seorang anak kecil (diperkirakan adalah anaknya sendiri – bahasa Ibrani yang dipakai adalah Yeled – child, children, offspring) yang tanpa sengaja membuat dirinya mengalami lecet kecil (Kej 4:23 – …melukai… terjemahan bahasa Ibrani: Petsa‛ – bruise, wound; …memukul… terjemahan bahasa Ibrani:  Chabbûrâh – bruise, stripe, wound).

Untuk itu, para pemimpin gereja di akhir jaman ini harus terus hidup dalam ketergantungan terhadap Tuhan atau ia justru akan melahirkan jemaat yang terus hidup dalam kedagingan, kemanusiawian dan bahkan cenderung mengikuti cara-cara orang fasik dalam usaha mereka meraih kesuksesan.

Lalu bagaimana membangun ‘kondisi rohani ini’ untuk terus ada dalam kehidupan sehari-hari kita ? Caranya adalah :

1. Pada saat kita berketetapan untuk terus mengejar Tuhan dan menghidupi firmanNya walaupun ada banyak orang yang justru meninggalkan Dia atau situasi atau keadaan sedang menekan hidup kita dengan sangat berat (Hab 3:17-19, Bil 13:27-14:10).

2. Pada saat kita berketetapan untuk makin gila-gilaan mengejar Tuhan walaupun sedang di sesah atau mengalami proses pembentukan oleh TanganNya (Yes 57:15-19, Ibr 12:5-13)

3. Pada saat kita terus mengkondisikan diri, terus mengingatkan diri kita sendiri untuk selalu hidup dari belas kasihan atau anugerah Tuhan (Mat 5:3, Ams 3:5-7).

4. Selama kita bisa memastikan untuk terus mengalami bekerjanya kuasa Roh dan penyingkapan firman dalam hidup kita (Yoh 4:10-14) “…jika engkau tahu tentang karunia Allah…”; “…dan siapakah Dia yang berkata kepadamu…” Setiap penyingkapan firman selalu memunculkan suatu tuntutan dari Tuhan (Luk 12:48). Tetapi jika kita terus meresponi setiap tuntutan tersebut secara akurat, dari dalam diri kita justru akan “terpancar aliran air hidup” – kita menjadi orang yang berbuah lebat.

Untuk itu, terus jagai kondisi hati dan pastikan kita terus memiliki kondisi kehidupan yang memperkenan hatiNya

Yohanes 15:7 

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. 

~ Ps. Steven Agustinus ~