13 September 2017

Sekali waktu selepas saya menyampaikan khotbah tentang pembapaan & penting serta manfaatnya untuk jemaat hidup dalam pengayoman dari seorang bapa rohani, ada satu jemaat yang mengajukan pertanyaan dengan berkata: “Saya memiliki suatu konsep tentang figur seorang Bapa di Alkitab adalah figur yang memiliki pengetahuan yang banyak tentang anaknya dan punya hubungan yang personal & ikatan emosional yang cukup dalam dengan anaknya. Apakah mungkin untuk seorang manusia (seorang bapa rohani) memiliki hubungan yang seperti itu dengan ratusan orang? Bagaimanakah seorang anak rohani akan bisa memiliki hubungan yang akurat dengan seorang bapa rohani yang -notabenenya hanya dia temui seminggu sekali dan nyaris tidak dia kenali secara pribadi?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, saya menjelaskan demikian:

1. Hubungan yang di bangun dalam hubungan bapa-anak harus di lahirkan oleh Roh Kudus didalam hati sang anak.
Dari sisi seorang bapa rohani, dia telah membuka hati/ hidupnya selebar mungkin untuk orang-orang yang ia layani sehingga meskipun orang yang ia layani tersebut sama sekali belum mengetahui tentang konsep pembapaan, sesungguhnya ia sudah membapai mereka. Roh Kudus sudah ‘melahirkan’ kehidupan jemaat yang ia layani untuk terlahir sebagai ‘anak’ dalam hidupnya. Itu sebabnya seorang pemimpin jemaat yang memfungsikan diri sebagai seorang bapa rohani adalah seseorang yang pertama-tama sudah menyerahkan hidupnya untuk jemaat yang ia layani.

Menjadi seorang bapa rohani tidak boleh di artikan sebagai suatu posisi istimewa yang layak untuk di kejar dan di upayakan oleh setiap orang (sampai pada akhirnya semua juga berkeinginan untuk menjadi seorang bapa rohani. Padahal untuk memiliki anak rohani tidak bisa/ tidak boleh dicari dengan cara-cara manusiawi; anak adalah pemberian Tuhan) Mereka yang ‘berambisi’ untuk memiliki anak, malah justru berpotensi besar akan ‘memanipulasi’ anak-anak yang ia miliki dengan berulangkali mengatakan aku adalah bapa rohanimu; jadi sekarang, sebagai anak, ini dan itu yang harus kamu lakukan untuk aku.

Menjadi seorang bapa rohani lebih merujuk kepada pengorbanan & jerih lelah dalam menanamkan pola Ilahi. Jadi dari sisi sang bapa rohani (yang mendapatkan anak-anaknya sebagai pemberian Tuhan) tidak pernah ada permasalahan untuk ia terus mengerjakan kewajibannya dalam menumbuhkan anak-anak rohaninya.

Yang perlu di perhatikan adalah, dari sisi sang anak. Apakah dalam hati sang anak, Roh Kudus ‘menunjukkan’, memberikan suatu kesaksian batin bahwa memang orang yang sedang bekerja keras untuk menanamkan prinsip-prinsip firman tersebut adalah seorang bapa bagi dirinya. Roh akan melakukannya dengan cara membawa sang anak mengalami perjumpaan pribadi dengan Bapa sorgawi; mengalami lawatan kasih Ilahi dari Bapa yang memulihkan jati dirinya. Dan hal tersebut terjadi melalui hidup, pelayanan dari sang (calon) bapa rohani.
Hubungan bapa-anak rohani harus diinisiatifi oleh Roh Kudus sendiri. Tanpa Roh Kudus yang memulai hubungan tersebut, hubungan bapa-anak rohani akan selalu rawan untuk di manipulasi.

2. Roh Kuduslah yang akan memainkan peran ‘day to day’ – bahkan ‘moment by moment’ dalam hidup sang anak rohani.
Setelah Roh Kudus melahirkan hubungan bapa-anak rohani dalam hati sang anak, Roh Kuduslah yang akan memainkan peranan selanjutnya. Akan ada suatu dorongan yang Dia berikan dalam hati sang anak untuk dia mulai menghargai & menumbuhkan hubungan tersebut. Roh mulai kembali mengarahkan hati anak-anak kepada bapanya (Mal 4:6) Akan ada banyak pemikiran, ide, kreatifitas yang Roh berikan dalam hati sang anak untuk ia mulai menumbuhkan ikatan batin & kualitas hubungan yang ia miliki dengan bapa rohaninya. Mulai dengan memberi ide untuk menelpon, mengirim email, memberikan kesaksian pertumbuhan dan lain-lain hingga berpikir untuk memberikan suatu surprise kecil, sedikit oleh-oleh selepas dari bepergian dan sebagainya – semua di lakukan dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa sebagai anak, kita menghargai keberadaan sang bapa dan berniat terus melanjutkan perjalanan rohani yang ada bersamanya.

Nah, kebanyakan pemimpin hanya ‘mengejar’, ‘berkeinginan kuat’ untuk dapat menikmati level kedekatan emosional yang seperti itu tanpa ia terlebih dahulu ‘menaburkan hidupnya’ bagi anak-anak rohaninya…
Memberikan persepuluhan bahkan menyerahkan masa depan ke dalam tangan seorang bapa rohani juga adalah merupakan hasil kerja dari Roh Kudus yang terus menumbuhkan kualitas hubungan antara seorang anak dengan bapa rohaninya. Teruslah melekat kepadaNya dan otomatis Roh Kudus akan menumbuhkan kualitas hubungan yang ada.

3. Tugas utama seorang bapa rohani adalah menunjukkan pola Ilahi yang sudah Tuhan bangun dalam hidupnya melalui teladan, pengajaran, bimbingan dan berbagai interaksi lain yang bisa dilakukan dengan sang anak rohani.
Walau banyak orang memiliki pandangan bahwa untuk memiliki hubungan dengan seorang bapa rohani, artinya harus selalu mengalami pendampingan maupun interaksi lahiriah dengan sang bapa, tapi sesungguhnya hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Biasanya orang-orang yang selama ini kehilangan figur seorang bapa (lahiriah) -lah yang memiliki pemikiran seperti itu. Itu sebabnya, sebelum hubungan bapa-anak rohani dimulai, Roh Kudus akan membawa sang anak rohani untuk mengalami realita dari Bapa sorgawi melalui keberadaan dari sang bapa rohani. Dari pemulihan jati diri sang anak-lah hubungan bapa-anak rohani akan berlanjut. Hal ini menjadi penting sehingga walau secara lahiriah, frekuensi pertemuan atau interaksi dengan sang bapa rohani tergolong minim, tapi sang anak akan tetap bertumbuh secara normal – bahkan dapat mengalami banyak lompatan iman – karena memang hubungan yang ia miliki bukanlah dengan si bapa rohani yang lahiriah tapi dengan Bapa sorgawi. Sang bapa rohani ‘hanya’ berfungsi sebagai representasi dari Bapa sorgawi dan bahkan dapat saya tegaskan, bahwa seorang bapa rohanipun tidak boleh ‘menarik’ anak-anak rohaninya untuk tertuju kepada dirinya. Setiap bapa rohani harus terus menunjuk kepada Bapa sorgawi; setiap bapa rohani harus membawa anak-anak rohaninya untuk dapat terhubung secara pribadi dengan Bapa sorgawi!
Dengan pola Ilahi tertanam kuat dalam diri sang anak – dan hal tersebut terbangun melalui berbagai interaksi yang terjadi antara sang anak dengan bapa rohaninya – maka sang anak rohani akan dapat terus memposisikan diri serta berfungsi secara akurat dalam rumah rohani yang ada.

4. Apa yang dilakukan ‘secara massal’ oleh sang bapa rohani terhadap anak-anak rohaninya – semisal yang saya lakukan lewat ibadah, training dan lain-lain- akan di ambil oleh Roh Kudus dan di implementasikan secara pribadi lepas pribadi dalam hidup sang anak yang sudah terhubung dengan sang bapa rohani – Roh Kudus akan melakukannya sesuai dengan level/ kondisi sang anak rohani hingga si anak rohani bertumbuh mencapai level standart yang Tuhan tetapkan.
Ingat selalu, inisiator dari hubungan bapa-anak rohani ini adalah pribadi Roh Kudus sendiri. Jadi Dia juga yang akan terus menumbuhkan kualitas hubungan maupun dampak dari hubungan tersebut. Roh akan membuat masing-masing anak rohani – di level rohani masing-masing, untuk mengetahui bagaimana cara mengimplementasikan setiap prinsip firman demi pertumbuhan rohani masing-masing pribadi, mengalami di posisikan oleh Tuhan untuk bangkit menjsdi orang yang berpengaruh, terpandang & di segani maupun mengeluarkan buah-buah kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Pendek kata, Roh Kudus akan terus membawa setiap anak rohani yang memposisikan dirinya secara akurat untuk selalu mengalami pertumbuhan & menunjukkan berbagai kemajuan.

5. Hubungan bapa-anak rohani adalah manifestasi dari cara kerja Tuhan dalam Ia memultiplikasikan kebenaran ke dalam hidup banyak orang.
Itu sebabnya, Dialah yang akan melakukan porsi terbesar & memegang peranan yang paling penting. Keberadaan saya sebagai seorang bapa rohani hanyalah melakukan porsi yang paling sederhana: memastikan diri saya terus terhubung dengan Dia & memastikan diri saya dapat merepresentasikan keberadaanNya seakurat mungkin…
Biar semua yang terjadi sebagai kemajuan, terobosan, kemenangan & manifestasi realita kemuliaan/ kedaulatan Tuhan dalam kehidupan anak-anak rohani sepenuhnya karena bekerjanya kuasa anugerah yang Ia percayakan didalam hidupku

#AkuCintaTuhan (Ps. Steven Agustinus)